Selasa, 04 Oktober 2016

Rabu 5 Oktober 2015
10:32 AM
 

TUGAS KELOMPOK PSIKOLOGI MANAJEMEN

NAMA-NAMA ANGGOTA ;
Farhan Alamsyah
Ichtiarani Putri
Kerry Sarafina Nadita
Reanne Adhitta Putri
Ulfa Junianti

KELAS ;
3PA18









Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



Bekasi, Oktober 2015

Penyusun










Latar belakang
Manajemen adalah proses perencanan seseorang guna mencapai tujuan yang di ingginkan setiap orang memerlukan perencanaan dalam hidup guna mencapai tujuan hidupnya secara terencana.
Setiap makhluk hidup berinteraksi dengan cara berkomunikasi.komunikasi dapat dilakukan melalui bahasa tubuh, lisan, tulisan maupun dengan menggunakan simbol.Dan komunikasi merupakan cara seseorang untuk menyampaikan sesuatu pesan untuk orang lain. Tanpa adanya komunikasi semua kegiatan manusia pasti akan terhambat.
 Rumusan Masalah
  1. Menjelaskan definisi psikologi manajemen dan organisasi
  2. Menjelaskan tentang pengertian komunikasi beserta munurut tohoh ahli komunikasi
  3. Membahas dimensi-dimensi dalam komunikasi
  4. Menjelaskan definisi pengaruh dan kunci perubahan perilaku
Tujuan
Agar mahasiswa memahami pengertian psikologi manajemen,organisasii, komunikasi serta mengetahui 4 macam dimensi komunikasi, meliputi dimensi isi, dimensi kebisingan, dimensi jaringan, dan dimensi arah dan definisi pengaruh kunci perubahan.







PSIKOLOGI MANAJEMEN
Psikologi Manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. 
 Ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.
            Pengertian manajemen dapat didefinisikan dalam  berbagai cara tergantung dari titik pandang. Secara umum pengertian manajemen adalah pegelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakan orang – orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan.
            Menurut George R. Terry (1977), “Manajemen adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating, dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan manusia dan sumber daya lainnya.”
FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN

1.      Management Leading
Leading merupakan fungsi pokok manajemen yang sangat nyata dan keahlian memimpin merupakan keahlian hubungan antarmanusia (human relations) maka timbul kecenderungan menarik kesimpulan bahwa hubungan antarmanusia yang sempurna dan manajemen yng efektif adalah suatu hal yang tak dapat dipisahkan.
Fungsi leading terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:
·         Mengambil keputusan (decision making)
·         Mengadakan komunikasi (communicating)
·         Memberi motivasi (motivating)
·         Memilih orang-orang (selecting people)
·         Mengembangkan orang-orang (developing people)
2.  Management Planning
Harold Koontz dan O’Donnel mengatakan fungsi perencanaan ialah “bila kelompok orang berusaha agar efektif, maka mereka harus mengetahui apa yang harus mereka selesaikan.”
Lebih jauh Koontz mengatakan, “planning meminta proses pemikiran yang memerlukan arah tindakan yang ditentukan secara sadar dan merupaka dasar dari keputusan-keputusan terhadap tujuan, pengetahuan dan dugaan yang disoroti.” Jadi dengan planning kita melihat ke masa yang akan datang dan dengan kontrol kita melihat mengenai tindakan yang dilaksanakan.
3.  Management Organizing
Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.
Fungsi pengorganisasian:
·         Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan.
·         Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggung jawab.
·         Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja.
·         Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat.
4.  Management Controlling
Kegiatan untuk menyesuaikan antara pelaksanaan dan rencana-rencana yang telah ditentukan.     


Fungsi Controlling yaitu :
·         Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.
·         Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.
·         Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis.
ORGANISASI

            Organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai           tujuan bersama dengan pola tertentu yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.

Karakteristik Organisasi (Nicholas Henry, 1988 : 73) :
  1. Punya maksud tertentu dan merupakan kumpulan berbagai manusia.
  2. Punya hubungan sekunder  (impersonal).
  3. Punya tujuan yang khusus dan terbatas.
  4. Punya kegiatan kerjasama pendukung.
  5. Terintegrasi dalam sistem sosial yang lebih luas.
  6. Menghasilkan barang dan jasa untuk lingkungannya dan sangat terpengaruh atas setiap perubahan lingkungan.

Fungsi dari Pengorganisasian
            Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam        perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem, dan lingkungan organisasi yang kondusif dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian t    ujuan organisasi.


DEFINISI KOMUNIKASI

Istilah komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi, sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi.
Menurut Frank E.X. Dance dalam bukunya Human Communication Theory terdapat 126 buah definisi tentang komunikasi yang diberikan oleh beberapa ahli dan dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja Pengantar Ilmu Komunikasi dijabarkan tujuh buah definisi yang dapat mewakili sudut pandang dan konteks pengertian komunikasi. Definisi-definisi tersebut adalahs ebagai berikut:
Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak).
Hovland, Janis & Kelley:1953
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
Berelson dan Stainer, 1964
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?)
Lasswell, 1960
Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
Gode, 1959
Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
Barnlund, 1964
Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan.
Ruesch, 1957
Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.
Weaver, 1949
Kita lihat dari beberapa definisi tersebut saling melengkapi. Definisi pertama menjelaskan penyampaian stimulus hanya dalam bentuk kata-kata dan pada definisi kedua penyampaian stimulus bisa berupa simbol-simbol tidak hanya kata-kata tetapi juga gambar, angka dan lain-lain sehingga yang disampaikan bisa lebih mewakili yaitu termasuk gagasan, emosi atau keahlian.
Definisi pertama dan kedua tidak bicara soal media atau salurannya, definisi ke tiga dari lasswell melengkapinya dengan komponen proses komunikasi secara lebih lengkap. Pengertian ke-empat dan seterusnya memahami komunikasi dari konteks yang berbeda menghasilkan pengertian komunikasi yang menyeluruh mewakili fungsi dan karakteristik komunikasi dalam kehidupan manusia.
Ke-tujuh definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa komunikasi mempunyai pengertian yang luas dan beragam. Masing-masing definisi mempunyai penekanannya dan konteks yang berbeda satu sama lainnya.
Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan.
Setiap pelakuk komunikasi dengan demikian akan melakukan empat tindakan: membentuk, menyampaikan, menerima, dan mengolah pesan. Ke-empat tindakan tersebut lazimnya terjadi secara berurutan. Membentuk pesan artinya menciptakan sesuatu ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui proses kerja sistem syaraf. Pesan yang telah terbentuk ini kemudian disampaikan kepada orang lain. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh orang lain. Pesan yang diterimanya ini kemudian akan diolah melalui sistem syaraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan atau reaksi dari orang tersebut. Apabila ini terjadi, maka si orang tersebut kembali akan membentuk dan menyampaikan pesan baru. Demikianlah ke –empat tindakan ini akan terus-menerus terjadi secara berulang-ulang.
Pesan adalah produk utama komunikasi. Pesan berupa lambang-lambang yang menjalankan ide/gagasan, sikap, perasaan, praktik atau tindakan. Bisa berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar, angka-angka, benda, gerak-gerik atau tingkah laku dan berbagai bentuk tanda-tanda lainnya. Komunikasi dapat terjadi dalam diri seseorang, antara dua orang, di antara beberapa orang atau banyak orang. Komunikasi mempunyai tujuan tertentu. Artinya komunikasi yang dilakukan sesuai dengan keinginan dan kepentingan para pelakunya.

 DIMENSI KOMUNIKASI

Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel dalam surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga pada siapa, penulisnya, tata letak (lay out)-nya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan, dan sebagainya.
1.   Dimensi Komunikasi Sistem Organisasi
a. Komunikasi Internal
Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:
Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada pimpinan.
Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.

b. Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang ianggap sangat penting saja. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:
Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti: majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
·Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.

2. Dimensi Komunikasi Antar Budaya
Dari tema pokok demikian, maka perlu pengertian – pengertian operasional dari kebudayaan dan kaitannya dengan KAB. Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan komunikasi antar budaya, ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan(kim.1984:17-20).
1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi.
2. Konteks sosial tempat terjadinya KAB.
3.   Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan KAB (baik yang bersifat verbal maupun nonverbal).

DEFINISI PENGARUH
Pengertian Pengaruh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.
Pengertian pengaruh menurut para ahli
-          Pengertian Pengaruh Menurut Wiryanto. Pengaruh merupakan tokoh formal mauoun informal di dalammasyarakat, mempunyai ciri lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi.
-          Pengertian Pengaruh Menurut Norman Barry. Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya.
-          Pengertian Pengaruh Menurut Uwe Becker. Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang – berbeda dengan kekuasaan – tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan.
-          Pengertian Pengaruh Menurut Robert Dahl. A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan.


KUNCI-KUNCI PERUBAHAN PERILAKU
Perubahan merupakan peralihan kondisi yang tadinya buruk, menjadi baik. Masyarakat yang berubah adalah masyarakat yang terdiri dari individu berkepribadian (personality) baik. Personality tidak dibentuk dari performance dan style seseorang, melainkan dari adanya daya intelektual dan perbuatan. Selanjutnya, tidak hanya membentuk saja, tapi juga disertai upaya menjadikan personality tersebut berkualitas.

Oleh karena itu kunci perubahan masyarakat adalah membentuk daya intelektual dan perbuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terjadilah perubahan perilaku yang secara otomatis diikuti dengan perubahan masyarakat.

Dalam hal ini P2KP memberikan kontribusi bagi perbaikan masyarakat dengan mengupayakan pemulihan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki (perilaku), yaitu keadilan, kejujuran, keikhlasan, kepercayaan dan kepedulian sebagai manusia sejati.
Perilaku yang akan menjadi kunci perubahan di masyarakat adalah sikap yang mampu melalui berbagai benturan dengan gemilang, adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan tekad untuk terus berjuang hingga titik nadi. Perubahan masyarakat akan berimplikasi terhadap perubahan individu, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia.
Paradigma P2KP bahwa masyarakat memiliki banyak tambang potensi sumber daya dan orang-orang berkualitas, jujur, dan dapat dipercaya, adalah idealisme yang harus diimplementasikan. Karena dengan menggali dan membuka peluang munculnya orang-orang jujur dan dapat dipercaya akan lebih menjamin kemajuan masyarakat. (Arul Syach, KMW IX P2KP-2 Sulawesi Tenggara;Nina/Reza).
KUNCI-KUNCI PERUBAHAN PERILAKU
Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku mal adaptif (Fisher & Gochros, 1975)
Karakteristik perubahan perilaku
ü   Fokus kepada perilaku (prosedur perubahan perilaku dirancang untuk merubah perilaku bukan merubah karakter atau sifat seseorang)
    -Perilaku yang dirubah disebut target perilaku meliputi perilaku yang berlebihan atau perilaku yang tidak/kurang dimiliki oleh orang
ü   Prosedurnya didasarkan kepada prinsip-prinsip behavioral. Perubahan perilaku adalah penerapan prinsip-prinsip dasar yang awalnya berasal dari penelitian eksperimental dengan binatang dilaboratorium (Skiner, 1938).
ü   Penekanannya kepada peristiwa-peristiwa didalam lingkungan. Perubahan perilaku meliputi asesmen dan perubahan peristiwa-peristiwa lingkungan yang mempunyai hubungan fungsional dengan perilaku
ü   Treatment dilakukan oleh orang didalam kehidupan sehari-hari (Kazdin, 1994). Perubahan perilaku akan lebih efektif  apabila dikembangkan oleh orang-orang yang berada dilingkungan individu yang perilakunya menjadi target perubahan seperti guru, orangtua atau orang lain yang dilatih tentang perubahan perilaku
ü   Pengukuran perubahan perilaku. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk melihat perubahan perilaku. Asesmen terus dilakukan setelah intervensi untuk melihat apakah perubahan perilaku yang sudah terjadi dapat terjaga.
ü   Mengabaikan peristiwa-peristiwa masa lalu sebagai penyebab perilaku. Penekanan perubahan perilaku kepada peristiwa-peristiwa lingkungan saat ini yang menjadi penyebab perilaku sebagai dasar pemilihan intervensi perubahan perilaku yang tepat.
ü   Menolak hipotetis yang mendasari penyebab perilaku. Skiner (1974) menjelaskan bahwa dugaan terhadap penyebab yang mendasari perilaku tidak pernah dapat diukur atau dimanipulasi untuk menunjukkan hubungan fungsional perilaku.


WEWENANG DAN PERAN
Wewenang adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Wewenan juga berarti kemampuan untuk mempengaruhi individu,keputusan dan kejadian, wewenang tidak sama dengan kekuasan, wewenang tanpa kekuasaan akan menyebabkan konflik.
Peranan (role) merupakan proses dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai kedudukannya. Maka dia telah menjalankan suatu peranan.

Jumat, 23 September 2016


Jumat 23 September 2016



JELASKAN MENGAPA MANUSIA MEMBUTUHKAN PSIKOLOGI MANAJEMEN ?

Psikologi Manajemen adalah suatu studi tentang tikah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi manajeman untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan misalnya perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya, tanpa adanya manajemen tentu semua tidak akan berjalan dengan baik. Dengan kita memanage hal hal tersebut, tentu kita jadi bisa melakukan hal tersebut dengan baik dan tertata.

Sedangkan organisasi dalam arti Statis merupakan tempat kegiatan administrasi dan manajemen berlangsung, dengan gambaran yang jelas tentang saluran hirarki daripada kedudukan, jabatan wewenag, dan garis komando dan tanggung jawab. Sedangkan organisasi dalam arti Dinamis merupakan proses kerjasama antara orang-orang yang tergabung dalam suatau wadah tertentu untuk mencapai tujuan bersama seperti yang telah ditetapkan secara bersama pula. Dalam arti paling umum, psikologi organisasi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku individu dan perilaku kelompok dalam aturan organisasi formal. Peran organisasi dalam sebuah perusahaan sangatlah penting, karena perusahaan didirikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan aktifitas, kerja sama, dan tentu saja orang yang melakukan aktifitas tersebut atau sumber daya manusia yang ketiga unsur ini terdapat dalam sebuah organisasi.


Jadi, mengapa manusia membutuhkan psikologi manajemen karena di kehidupan sehari hari agar kita bisa memanage waktu yang kita punya, agar semua waktu yang ingin kita gunakan harus kita manage dengan baik, benar dan teratur

BERILAH CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI MENGAPA PSIKOLOG MANAJEMEN PENTING



Manajemen dalam kehidupan sehari- hari yaitu manajemen di komplek perumahan.
Manajemen tidak selalu ada di perkantoran atau di perusahaan- perusahaan lainya, tetapi di dalam kehidupan kita juga sering terjadi manajemen.
 Contohnya dalam suatu komplek tempat kita tinggal pasti ada yang namanya RT ( Rukun Tetangga ) ataupun RW ( Rukun warga ) yang di beri kepercayaan oleh warga sekitar untuk mengatur, menggerakan, mengkoordinasi warga- warganya demi tercapainya suatu tujuan tertentu.

Ada juga manajemen di dalam organisasi,

Organisasi adalah suatu kumpulan manusia terdiri dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Peran penting manajemen di organisasi,menurut saya kalau sebuah organisasi tidak ada manajemen maka organisasi itu tidak berjalan dengan baik. dengan adanya manajemen di organisasi tersebut semua pasti bisa terkendali,Organisasi biasanya melakukan kegiatan - kegiatan positif , dalam melakukan kegiatan seringkali harus ada musyawarah dalam organisasi,didalam organisasi tentu ada Pemimpin organisasi dan anggotanya,dalam musyawarah seringkali harus mengambil keputusan - keputusan yang tepat agar semua berjalan dengan baik.itulah manajemen di organisasi,manajemen punya peranan penting di organisasi seperti peranan antar pribadi,peranan informasional,peranan keputusan dll.

Sabtu, 30 April 2016

Pengantar kesehatan mental (psikoanalisis)

PSIKOANALISIS

Anggota Kelompok :
• Alfred Deardo(10514828)
• Diajeng Asi Rosiana          (12514968)
• Fakar Nuansa Pekerti(13514906)
• Farhan Alamsyah(13514949)
• Kerry Sarafina Nadita(15514816)
• Mohammad Imadudin Abduro(16514796)
• Nauval Muhammad Zikri Kush(17514870)
• Qhosim Nurshalhi(18514643)
• Rafaela Putri E.(18514732)
• Reanne Adhitta Putri(18514976)
• Ulfa Juniati(1A514921)
Kelas : 2PA18
Kesehatan Mental Menurut Teori Psikoanalisa
Sigmund Freud merupakan salah satu tokoh psikoanalisis. Menurut Freud, kehidupan jiwa dibagi memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious) dan tak-sadar (unconscious). Bagi  Freud kehidupan mental dibagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar dibagi menjadi alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Dalam psikologi Freudian ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai prose maupun lokasi. Menurut Freud seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat apabila mampu menilai diri sendiri seecara realistik, mampu menilai situasi secara realistik, mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik, menerima tanggung jawab, kemandirian, dapat mengontrol emosi, berorientasi keluar(ektrovert), penerimaan sosial, berbahagia. Menurutnya mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
Video : https://m.youtube.com/watch?v=9eIYdsFaMfk

Jumat, 25 Maret 2016

Pengantar Kesehatan Mental

Orientasi Kesehatan Mental
Banyak pendapat mengenai kesehatan mental bagi kalangan masyarakat luas yaitu bagaiman mereka memahami apa sebenarnya kesehatan mental itu. Dalam mendefinisikan kesehatan mental, sangat dipengaruhi oleh kultur dimana seseorang tersebut tinggal. Apa yang boleh dilakukan dalam suatu budaya tertentu, bisa saja menjadi hal yang aneh dan tidak normal dalam budaya lain, dan demikian pula sebaliknya (Sias, 2006). Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah – masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam hidup sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara mendefinisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu :
  • Sehat mental karena tidak mengalami gangguan mental
Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang tahan terhadap sakit jiwa atau terbebas dari sakit dan gangguan jiwa. Vaillaint (dalam Notosoedirjo & Latipun, 2005), mengatakan bahwa kesehatan mental atau psikologis itu “as the presence of successfull adjustmet or the absence of psychopatology” dan yang dikemukakan oleh Kazdin yang menyatakan kesehatan mental ”as a state in which there is an absence of dysfunction in psychological, emotional, behavioral, and sosial spheres”. Pengertian ini bersifat dikotomis, bahwa orang berada dalam keadaan sakit atau sehat psikisnya. Sehat jika tidak terdapat sedikitpun gangguan psikisnya, dan jika ada gangguan psikis maka diklasifikasikan sebagai orang sakit. Dengan kata lain sehat dan sakit itu mental itu bersifat nominal ytang dapat dibedakan kelompok-kelompoknya. Sehat dengan pengertian ”terbebas dari gangguan”, berarti jika ada gangguan sekialipun sedikit adanya, seseorang itu diangganb tidak sehat.
  • Sehat mental jika tidak sakit akibat adanya stressor
Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh sakit akibat stressor (sumber stres).
  • Sehat mental jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya Michael dan Kirk Patrick (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) memandang bahwa individu yang sehat mentalnya jika terbebas dari gejala psikiatris dan individu itu berfungsi secara optimal dalam lingkungan sosialnya.
  • Sehat mental karena tumbuh dan berkembang secara positif
Frank, L. K. (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) merumuskan pengertian kesehatan mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara ”positif”. Dia mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab, menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan sosial dan tindakan dalam budayanya.

Dari berbagai pengertian yang ada, Johada (dalam Notosoedirjo dan Latipun, 2005), merangkum pengertian kesehatan mental dengan mengemukakan tiga ciri pokok mental yang sehat:
  • Seseorang melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan atau melakukan usaha untuk menguasai, dan mengontrol lingkungannya, sehingga tidak pasif menerima begitu saja kondisi sosialnya.
  • Seseorang menunjukkan kutuhan kepribadiaanya – mempertahankan integrasi kepribadian yang stabil yang diperoleh sebagai akibat dari pengaturan yang aktif.
  • Seseorang mempersepsikan “dunia” dan dirinya dengan benar, independent dalam hal kebutuhan pribadi.

Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health) merumuskan pengertian kesehatan mental sebagai berikut.
  • Kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan keadaan orang lain.
  • Sebuah masyarakat yang baik adalah masyarakat yang membolehkan perkembangan ini pada anggota masyarakatnya selain pada saat yang sama menjamin dirinya berkembang dan toleran terhadap masyarakat yang lain.

Dalam konteks Federasi Kesehatan Mental Dunia ini jelas bahwa kesehatan mental itu tidak cukup dalam pandangan individual belaka tetapi sekaligus mendapatkan dukungan dari masyarakatnya untuk berekembang secara optimal. Dengan demikian, pengertian kesehatan mental beragam. Namun, demikian merumuskan pengertian kesehatan mental secara komprehensif adalah bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Untuk membantu memahami makna kesehatan mental, terdapat prinsip-prinsip yang dapat dijadikan sebagai pegangan bagi kita. Prinsip-prinsip pengertian kesehatan mental adalah sebagai berikut:

  1. Kesehatan mental adalah lebih dari tiadanya perilaku abnormal.
Prinsip ini menegaskan bahwa yang dikatakan sehat mentalnya tidak cukup kalau dikatakan sebagai orang yang tidak megalami abnormalitas atau orang yang normal. Karena pendekatan statistik memberikan kelemahan pemahaman normalitas itu. Konsep kesehatan mental lebih bermakna positif daripada makna keadaan umum atau normalitas sebagaimana konsep statistik.
  1. Kesehatan mental adalah konsep yang ideal.
Prinsip ini menegaskan bahwa kesehatan mental menjadi tujuan yang amat tinggi bagi seseorang. Apalagi disadari bahwa kesehatan mental itu bersifat kontinum. Jadi sedapat mungkin orang mendapatkan kondisi sehat yang paling optimal dan berusaha terus untuk mencapai kondisi sehat yang setingi-tingginya.
  1. Kesehatan mental sebagai bagian dan karakteristik kualitas hidup.
Prinsip ini menegaskan bahwa kualitas hidup seseorang salah satunya ditunjukkan oleh kesehatan mentalnya. Tidak mungkin membiarkan kesehatan mental seseorang untuk mencapai kualitas hidupnya, atau sebaliknya kualitas hidup seseorang dapat dikatakan meningkat jika juga terjadi peningkatan kesehatan mentalnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah Suatu kondisi dimana kepribadian, emosional, intelektual dan fisik seseorang tersebut dapat berfungsi secara optimal, dapat beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan danstressor, menjalankan kapasitasnya selaras dengan lingkungannya, menguasai lingkungan, merasa nyaman dengan diri sendiri, menemukan penyesuaian diri yang baik terhadap tuntutan sosial dalam budayanya, terus menerus bertumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

  1. Konsep Sehat
WHO mendefinisikan sehat sebagai sebuah kondisi yang lengkap yaitu sejahtera (well-being) dari segi fisik, mental dan sosial dan tidak hanya terbebas dari gejala atau penyakit. Dadang Hawari, 1984, WHO menambahkan aspek spititual sbg kriteria sehat, sehingga sehat berarti meliputi kondisi sejahtera pada (1) aspek Fisik/ jasmani/biologis (2) aspek kejiwaan/psikologis/ (3) aspek sosial (4) aspek spiritual (rohani/agama). Batasan tersebut meningkatkan keterikatan antara konsep “sehat” dengan “kesehatan mental”. Kesehatan mental suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya, dapat melakukan coping thd tekanan hidup yg normal, bekerja dengan produktif dan memiliki kontribusi dalam kehidupan di komunitasnya.
Ada beberapa dimensi yang terdapat dalam konsep sehat
  1. Emosi
Disini emosi diartikan sebagai suatu persaan yang dimiliki seseorang baik unuk dirinya pribadi juga dengan orang lain. Setiap manusia memiliki kemampuan dalam membentuk ikatan emosionalnya secara kuat dan abadi. Seperti tingkat emosionalnya melalui persahabatan dan cinta, mampu mengekspresikan ketidaksukaan/ketidaksetujuan tanpa kehilangan kontrol, kemampuan memahami dan membagi perasaan kepada orang lain, kemampuan menyenangi diri sendiri dan tertawa. Ketika seseorang tidak senang pada suatu saat, maka dia harus memiliki alasan yang tepat mengapa dia tidak senang. Jadi dalam konsep ini manusia dituntut untuk menjalani kehidupan tidak terlepas dari perann emosionalnya.
  1. Intelektual
Kemampuan intelektual dapat membedakan antara orang yang satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki kemampuan intelektualnya masing – masing. Tetapi dalam konsep sehat seseorang yang memiliki intelektual bisa diartikan sebagai seorang yang mampu mengkondisikan dirinya terhadap dunianya dan dunia luarnya baik berkomunikasi terhadap orang, membuat keputusan, sikap menyikapi antar sesama, rendah diri, mampu mengetahui hal yang realisti, serta mampu menilai yang baik dan yang buruk.
  1. Sosial
Arti sosial bisa kita jelaskan sebagai suatu ikatan yang tidak bisa dipisahkan interaksinya antar manusia. Yang dikatakan sebagai yang sehat ia mampu melihat realitasnya secara nyata dan dapat mengendalikan keadaan sesuai kondisi sosialnya. Disini seorang yang sehat itu mampu untuk mengetahui keadaan sekitarnya dalam keberlangsungan hidup yang sosial. Bukan hanya berhubungan dengan orang lain, sosial disini juga sangat bergantung kepada aspek pribadi dirinya sendiri dalam kegiatan sosialnya.
  1. Fisik
Kesehatan fisik tidak terlepas dari keberlangsungan kehidupan manusia. Manusia yang baik fisiknya adalah ia yang mampu menguasai dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena fisik menjadi faktor utama bagi seseorang yang dikatakan sehat untuk menjalani hidupnya. Sehingga ia mampu untuk memanfaatkan kesempurnaan fisik untuk beraktivitas.
  1. Spiritual
Steadmen, Palmer, dan Ellsworth (dalam Feierman, 2009) mendefinisikan perilaku religius adalah seperangkat perilaku yang merupakan ekspresi dari religiusitas seseorang yang tercakup didalamnya pelaksanan ritual agama, pelaksanaan ibadah, dan berdoa. Feierman (2009) mengatakan bahwa perilaku religius mencerminkan keyakinan terhadap agama yang ditampilkan atau didemonstrasikan dalam bentuk perilaku. Kehidupan manusia tidak terlepas dari spiritualnya terhadap agama. Dimana spiritual mampu menghadirkan kedamaian dalam batin dan pikiran manusia. Sehingga akibat dari tingkat religius seseorang ia mampu bertahan untuk menjalankan konsep sehat yang ia rasakan. Religius dapat dilihat dari frekuensi kehadiran dan pelaksanaan kegiatan keagaman. Misalnya setiap hari minggu ke gereja, berdoa, sembayang, dan puasa. Dapat disimpulkan bahwa perilaku religius adalah seperangkat perilaku yang merupakan ekspresi dari religiusitas dan keyakinan terhadap agama yang dapat diindikasikan dari tingkatan seberapa sering (frekuensi) seseorang mengerjakan kewajiban ajaran agamanya, frekuensi melakukan ibadah (sembayang), pelaksanaan ritual agama, berdoa, melaksanakan ibadah religius seperti ke gereja, ke mesjid, berpuasa, dan shalat lima waktu.

  1. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Anggapan lama di Cina, Mesir maupun Yunani kuno mengenai seseorang yang mengalami gangguan jiwa adalah karena dikuasai oleh roh jahat, yang dapat disembuhkan dengan doa, mantera, sihir, dan penggunaan obat – obatan alami tertentu. Jika cara pengobatan ini tidak menyembuhkan, maka langkah berikutnya adalah upaya agar roh jahat tersebut tidak kerasan hidup di dalam tubuh penderita. Cara yang dilakukan terkadang ekstrim, yaitu dengan cara mencambuk, membiarkan lapar atau melemparinya dengan batu sampai penderita meninggal dunia.
Kemajuan pemikiran dalam upaya menyembuhkan penderita gangguan jiwa adalah ketika Hippocrates, seorang dokter Yunani Kuno menolak anggapan bahwa adanya roh jahat. Ia berpendapat bahwa gangguan terjadi karena adanya kekacauan ketidakseimbangan cairan dalam tubuh penderita. Hippocrates dan beberapa pengikutinya (para dokter dari Yunani dan Romawi) mengajukan cara penyembuhan yang lebih manusiawi. Mereka lebih mementingkan lingkungan yang menyenangkan, olahraga, aturan makan yang teratur, pijat/ mandi yang menyejukkan. Disamping beberapa pengobatan yang kurang menyenangkan seperti, mengeluarkan darah penggunaan obat pencahar, dan pengekangan mekanis.
Perkembangan yang telah dimulai Hippocrates dan kawan – kawannya tersebut sayangnya tidak diikuti dengan perkembangan lebih lanjut, sehingga pada abad pertengahan kemudian berkembang lagi adalah cerita takhayul primitif dan adanya keyakinan tentang setan. Pada penderita gangguan jiwa dianggap berada dalam kelompok setan yang memiliki kekuatan gaib untuk dapat menimbulkan bencana dan kecelakaan bagi orang lain. mereka ini lalu diperlakukan secara kejam, karena ada keyakinan bahwa dengan memukul, membuatnya lapar, dan menyiksa setan yang merasuk didalamnya yang akan menderita. Kekejaman ini memuncak pada abd ke – 15, 16, 17 karena pada masa itu sedang berlangsung pengadilan ilmu sihir yang akhirnya menghukum mati ribuan penderita.
Lahirnya Rumah Sakit Jiwa
Pada akhir abad pertengahan, banyak rumah sakit didirikan untuk menanggulangi para penderita penyakit jiwa. Rumah sakit ini bukanlah merupakan pusat perawatan dan penyembuhan, melainkan merupakan semacam penjara dimana para penghuninya dirantai di dalam sel yang gelap dan kotor, serta diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pada tahaun 1792 ada kabar menggembirakan ketika Phillipe Pinel ditempatkan pada sebuah rumah sakit jiwa di Paris. Pinel membuat semacam eksperimen dengan cara melepas rantai yang mengikat penderita. Di luar dugaan orang – orang yang skepttis, yang menganggap Pinel gila karena keberaniannyamelepas rantai tersebut. Percobaan Pinel justru menunjukkan hasil yang lebih baik. Ketika akhirnya dilepas dari kekangannya, lalu ditempatkan di tempat yang bersih dan bercahaya, diperlakukan dengan baik, banyak penderita yang dulunya dianggap tidak dapat disembuhkan memperlihatkan kemajuan yang pesat sehingga akhirnya diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit jiwa.
Pada awal abad ke – 20, dicapai kemajuan besar dalam bidang obat – obatan dan psikologi. Pada tahun 1905 gangguan fisik yang dikenal sebagai general paresistimbulnya gejala gangguan tersebut. General paresis ditandai dengan adanya penurunan fungsi mental dan fisik seseorang secara lambat, perubahan kepribadian, serta adanya delusi dan halusinasi. Tanpa pengobatan para penderita penyakit ini akan meninggal dalam beberapa tahun. Pada masa itu, general paresis merupakan lebih dari 10% penyebab timbulnya penyakit jiwa, namun pada saat ini hanya sedikit kasus yang dilaporkan berkat efektivitas penisilin sebagai obat untuk menyembuhkan sifilis.
Penemuan general paresis tersebut meyakinkan para ahli bahwa penyakit jiwa berpangkal pada gangguan biologis. Sementara itu pada saat yang hampir bersamaann dua orang ahli yang berbeda juga telah meletakkan dasar pijakan yang penting. Sigmund Freud dan para pengikutnya meletakkan dasar pemahaman penyakit jwia sebagai gangguan yang berkaitan dengan faktor psikologis, sementara Ivan Pavlov telah berhasil menunjukkan bahwa binatang dapat terganggu secara emosional bila dipaksa mengambil keputusan di luar kemampuan mereka.
Kemajuan – kemajuan pengetahuan di atas agaknya tidak mempengaruhi pandangan masyarakat, bahwa umah sakit jiwa itu adalah sesuatu yang horor dimana para penghuninya dihinggapi rasa takut. Adalah Clifford Beers, mantan penderita gangguan manik depresif sehingga pernah dirumahsakitkan selama 3 tahun. Selama perawatannya di rumah sakit jiwa, Beers memang tidak lagi mendapat perlakuan dirantai dan disiksa, akan tetapi karena penderitaannya ia pernah memakai baju pengikat (straitjacket) untuk mengendalikan pemberontakannya. Kurangnya dana pada rumah sakit jiwa pada umumnya menyebabkan suatu rumah sakit jiwa menjadi penuh sesak dengan barak – barak, makanan dengan gizi renadh, serta para pembesuk yang tidak simpatik; kesemuanya itu menyebabkan rumah sakit menjadi sesuatu tempat yang jauh dari menyenangkan.
Setelah sembuh, Beers menuliskan semua pengalamannya di rumah sakit jwia tersebut dalam buku yang terkenal pada waktu itu A Mind That Found Itself (1908).Beers tiada henti – hentinya bekerja untuk mendidik masyarakat tentang penyakit jiwa serta membantu mengorganisasi Komite Nasional untuk kesehatan jiwa. Pada tahun 1950, organisasi ini lalu bergabung dengan dua kelompok lain untuk membentuk Asosiasi Nasional Kesehatan Jiwa. Gerakan ini ternyata berpengaruh besar pada pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa.
  1. Pendekatan Kesehatan Mental
  2. Orientasi Klasik
Sepeti yang dilakukan oleh Pavlov pada percobaan ia dapat menyimpulkan tentang keluhan subjek dari respon yang diterimanya. Begitu juga dengan kesehatan mental, berbicara orientasi klasik biasanya digunakan dalam kedokteran untuk menyatakan pasien dengan keluhannya. Dalam psikologi pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang – orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang – orang seperti tu tidak ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesdaran dan tak mampu mengurus dirinya sendiri secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik urang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata “sehat”. Sehat atau tidak adanya sseorang secara mental, belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaiakan diri dengan lingkungan dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
  1. Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri bermakna penting bagi seseorang untuk beradaptasi terhadap keadaan yang ia lakukan. Penyesuaian diri juga sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi ketegangan, frustrasi dan konflik dengan memperhatikan norma yang ada (Schneiders, 1964). Ada beberapa klasifikasi penyesuaian diri diantaranya: (1) gejala masalah, meliputi : neurotik psikotik, psikopatik. (2) Jenis kualitas respon, meliputi : penyesuaian yang normal & penyesuaian yang menyimpang. (3) Jenis masalah, meliputi : personal, sosial, keluarga, akademik, vokasional, marital.

Kesehatan mental merupakan kunci dari penyesuaian diri yang sehat. Kesehatan mental merupakan bagian integral dari proses penyesuaian diri secara keseluruhan. Kualitas mental yang sehat merupakan dasar yang penting bagi “good adjustment”. Sedangkan Penyesuaian diri yang menyimpang (maladjustment)Proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang ada
  1. Orientasi Pengembangan Potensi
Kita sangat mengetahui orang yang produktif dalam kesehari – hariannya ialah ia yang mampu membawa dan menjadikan dirinya sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Disni yang diakatan sebagai orang yang mencapai taraf kesehatan jiwa bila ia mampu untuk mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan potensi diri yang dimilikinya. Dengan demikian ia dikatakan mampu untuk menggali potensi diri yang dimilikinya.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa kesehatan mental itu merupakan suatu keadaan dimana orang yang tidak dalam keadaan gila atau normal. Ia mampu menjalankan sesuatu hal yang akan ia lakukan dalam kehidupannya sehari – hari. Selain itu orang yang dikatakan sehat mentalnya tidak terlepas dari beberapa peran dimensi konsep sehat karena bagaimanapun dimensi itu tidak akan bisa diakatakan sempurna apabila setiap individu itu belum mampu untuk menjalankannya. Maka dari itu dimensi itu yang akan menjadikan seseorang sehat akan mentalnya.

Demikian beberapa pembahasan mengenai kesehatan mental dalamm ilmu psikologi. Semoga bermanfaat.

Referensi : – Prabowo, Hendro. (1996). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gundarma